Twitter
Facebook
Google
Youtube
Rss

Islam Tanpa Indonesia

Islam Tanpa Indonesia
  • Ren
  • 2019-09-02 09:09
  • Cetak
  • PDF
  • Bagikan via Facebook
  • Bagikan via Twitter
  • Bagikan via Google Plus
  • Bagikan via Whatsapp
  • Pengunjung 27
  • Jumlah Komentar 0
  • -
    +

Mari sejenak membayangkan bagaimana nasib Islam bila Allah tak menitipkan tongkat estafetnya pada bangsa besar Nusantara?

Hasilnya adalah, “anak kandung” agama bahari ini sudah punah sejak kemangkatan Rasulullah Muhammad Saw pada abad ke-7 M. Keratuan Kalingga barangkali tak harus meleburkan mugiya rahayu sagung dumadhi menjadi assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu, yang dibawa ‘Ali bin Abi Thalib ke sini. Generasi awal Wali Songo mungkin tak usah membangun jaringan luar biasa kokoh di sepanjang pantai utara Jawa hingga ke tanah Hijaz.

Kubilai Khan ndak usah repot-repot mengutus armada militernya menghadap Dyah Wijaya—lantas menitahkan anaknya, Hulagu Khan, memberangus Dinasti Abbasiyah yang melenceng. Belanda tak perlu repot-repot menghadapi Sultan Agung, Aru Palakka, Sultan Hasanuddin, Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Imam Bonjol, lalu dikemudian dihadapi secara intelek oleh Umar Said Cokroaminoto dan para bangsawan pikiran lainnya. Takkan ada lah Liga Bangsa-Bangsa (kini PBB) yang dianjurkan Raden Mas Panji Sosrokartono.

Muslim sedunia takkan mengenal Syekh Yusuf Makassar yang menginspirasi Nelson Mandela. Ulama di muka bumi usah pula mengagumi Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi, Syekh Nawawi al Bantani, dan Syekh Yasin Isa al Fadani, lantaran daya jangkau ilmu ke-Islaman mereka yang menembusi tepian batas zaman.

Ibn Saud nggak mesti mengindahkan Komite Hijaz pimpinan Kiai Wahab Chasbullah, demi membendung kegilaannya yang ingin membongkar makam Nabi Muhammad Saw.

Kolonialisme-neoliberalisme tak perlu berhadapan dengan Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan—dengan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang mereka dirikan. Dua organisasi Islam yang skalanya melebar ke seantero dunia. Pendidikan umat Islam Indonesia hari ini, jelas berhutang budi pada dua matahari kembar Tanah Jawa tersebut—yang cerlang cahayanya masih bersinaran hingga saat ini.

Gerakan Non-Blok yang digelorakan Sukarno takkan melecut nyali para pemimpin revolusi besar, untuk menumpas tirani kolonialisme. Pertemuan para pendiri negara-bangsa Asia-Afrika yang berkumpul di Mesir pada 1961, kemudian menahbisnya sebagai Pahlawan Islam. KTT Asia Afrika setahun kemudian, adalah buah manis yang dipetik Bung Karno dari pergulatannya dengan Dunia Islam.

Setengah abad berselang, Gus Dur melanjutkan kerja besar kakeknya. Menumbangkan rezim Orde Baru. Memimpin Indonesia sebagai presiden. Melanglang buwana menjalin persaudaraan semesta. Mengenalkan Islam secara jenaka kepada para pemimpin dunia. Mengubah peta jalan politik. Menekan Israel dengan lobi tingkat tinggi yang belum pernah dilakukan presiden mana pun.

Sekarang kita kaji sisi lainnya. Indonesia bukan hanya unggul secara kuantitas selaku negara berpenduduk Muslim terbesar sedunia. Tak hanya itu. Di negeri ini, ada 1.340 suku bangsa, 300 kelompok etnik, 742 rumpun bahasa, dan ini yang mencengangkan: 200-an lebih keyakinan tua yang beberapa di antaranya malah lebih dulu ada sebelum Nabi Muhammad Saw lahir ke bumi.

Uniknya, semua itu lebur dalam Islam, atau sebaliknya. Sehingga kehadiran agama Langit terakhir ini, seolah menjadi pelengkap rasa sejati bagi masyarakat Nusantara.

Bukti terkait itu bisa kita telusuri melalui tinggalan lontara pada abad ke-14 M karangan Mpu Prapanca yang berjudul Nirarthaprakreta, dalam pupuh keenam:

(baris pertama) Iwa mankaneki gati san hyan umibeki samuhanin dadi. Ya mawak pawak ya ginawe gumaway ikan acintya niskala. Sasinadhyanin tapa masadhya rin angulahaken giwarcana. Hana tan tumut tuwi tumut ta ya raket i sapolahin sarat.

Seperti itulah halnya Dia, yang ada dalam seluruh makhluk dan yang memenuhi segala makhluk. Dia Hyang Meliputi dan sekaligus Diliputi. Dia-lah yang diciptakan ini semua, dan Dia juga yang menciptakan, yang tak dapat dicapai dengan pikiran dan segenap indra; menjadi tujuan semua pertapa yang menyembah-Nya. Dia hadir dan dekat dengan segala makhluk, ikut di dalam segala perbuatan makhluk, tetapi juga tidak berbuat.

(baris kedua) Rin apan kawastwan i siran grahana tubu widehalaksana. Ya matannya durgama kapangihanika tekapin mamet hayu. Humenen nda tan wenan atarka ri karegepanin samankana. Katunan tutur hidepikan lebar abalika wreddhyanin lupa.

Bagaimanakah (manusia) dapat menggambarkan-Nya dan meraba-Nya, karena Dia sungguh-sungguh bersifat ‘Tak bermateri’? Itulah sebabnya Dia sangat sukar ditemukan oleh orang yang berniat mencapai Kebahagiaan. Hanya pada waktu manusia mampu men-‘diam’-kan diri (dari segala pikiran liarnya) dan disaat manusia ‘tak merasa menemukan-nya’, maka akan hilang lenyap rasa dan pikiran kembali kepada ‘Ke-alpa-an yang Sempurna’, (dan dapat bertemu Dia).

Leluhur kita dahulu mengalihbahasakan lagi wejangan Mpu Prapanca itu menjadi tan keno kiniro (tiada terperi), tan keno kinoyo ngopo (tak berkesejajaran dengan apa pun). Islam hadir dengan bahasa Arab yang artinya juga bermiripan. Laysa kamitslihi say’un (tiada sesuatu yang bisa menyamai) atau mukhalafatu lil hawaditsi (berbeda dari makhluk-Nya).

Bentuk pencapaian makrifat sedemikianlah, yang membuat Islam tumbuh subur di zamrud Khatulistiwa ini. Muslim di Timur Tengah sana, yang dalam sejarah bahkan telah menyaksikan langsung kehadiran para Nabi-Rasul Tuhan, tak sanggup mengelola kesukuan bangsa mereka yang padahal homogen.

Hingga tulisan ini kami susun, Saudi Arabia, Suriah, Libya, Tunisia, Lebanon, Irak, Iran, masih bertikai sengit antar sesama—yang ironisnya sama-sama muslim.

Sebagai antidot bagi saudara kita di Timteng sana, bangsa kita dianugerahi Tuhan serbaneka kelebihan yang tak terperikan. Dari sekian banyak bangsa di dunia, dari pelbagai aneka umat Muslim yang ada, hanya bangsa Indonesia yang dengan tingkat keseriusan tinggi, membakukan mudik sebagai ritus bersama. Berjamaah tapi tanpa imam. Dirayakan, bahkan dalam diam.

Sejak tiga dekade lalu kami mengenal Ramadan, rasanya sukar mencari orang perdana yang “mengajari” muslim Indonesia mudik ke kampung halaman. Lebih dari itu, mudik juga sudah ditradisikan pula oleh saudara sebangsa kita yang bukan beragama Islam. Dengan suka cita, mereka pun turut dalam gelombang besar pemudik pada penghujung Ramadhan—setiap tahun.

Entah bagaimana riwayat asli mudik sebelum jadi seperti sekarang ini, hanya Tuhan sajalah yang tahu. Itu ranah yang tak perlu dipusingkan. Sebab yang utama dari mudik adalah, kita wajib menjalankan perintah-Nya agar “saling kenal mengenal dan menyayangi”. (QS. al-Hujurat [49]: 13).

Mudik, sangat dekat dengan upaya saling mengenal. Sangat besar kemungkinan mengajari kita arti penting rasa kasih-sayang yang kental.

Mengalami momen mudik dan lebaran, membuat kami kian yakin bahwa bangsa kita sudah berbakat bahagia sejak dahulu kala. Keriuhan Pilpres 2019 seketika mereda jelang akhir Ramadhan. Para pendukung Jokowi dan Prabowo mendadak senasib sepenanggungan manakala melintasi jalur mudik menuju kampung halaman. Semata karena ingin bersua handai tolan.

Sebelum Jokowi berhasil memenangkan pertarungan pilpres, dan menjabat orang nomor satu Indonesia medio 2019-2024, ia telah lebih dulu didapuk sebagai Presiden Dewan Keamanan PBB selama lima tahun ke depan. Inilah kali pertama seorang kepala negara beragama Islam, menduduki posisi paling strategis pada zaman modern. Pertanyaannya, kenapa harus Jokowi?

Dari sekian banyak negara berpenduduk muslim, tak satu pun yang sanggup menenggang perbedaan mazhab kalam (ushuluddin), fiqh, dan tariqat yang masih jumbuh dalam sejarah manusia. Iran yang dulu Sunni, kini Syi’ah. Saudi yang semula kosmopolit, sekarang sumpek-judeg dengan Wahabisme. Begitu juga dengan Afghanistan, Pakistan, Bangladesh.

Pembedanya pun lumayan tegas. Di Indonesia belum pernah, dan mungkin takkan ada yang namanya mufti. Kita sudah cukup bersyukur dihadiahi Allah dengan seorang Prof. Quraisy Shihab, Mbah Maimun Zubair, Gus Mus, Habib Luthfi.

Tiada diperlukan lembaga sertifikasi. Majelis Ulama Indonesia (MUI) hanya sekadar nama. Bukan penentu kebijakan. Empat nama di atas itu saja, belum mewakili golongan khawash l-khawash (khususnya khusus) yang lazim dirujuk para kiai dalam sunyi-sepi hiruk-pikuk manusia

Belum lagi jika kita menguliti bagaimana para pemeluk Nasrani dan Yahudi, yang dengan leluasa menjalankan laku beragama mereka. Bahkan hanya di sini saja ada pemeluk Nasrani yang lidahnya bisa dengan mudah menyebut alhamdulillah, insyaallah, Allahu akbar, tanpa harus merasa risih.

Ajaran rahmatan lil ‘alamin yang menjadi spirit utama Islam, sudah sejak lama mendarah daging dalam kehidupan orang Nusantara. Kita biasa mengenalnya dengan istilah gotong-royong, tepo seliro, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Islam yang mengedepankan napas komunalisme, kemudian bersalin rupa menjadi Partai Komunis Indonesia pada ranah politik. Wajar bila Vladinir Lenin kebingungan melihat Tan Malaka—yang lucunya telah menghafal Alquran sedari usia tujuh tahun.

Apalagi yang telah dan akan terus disumbangsihkan muslim Indonesia?

Jawaban yang paling tak bisa ditampik adalah: kedamaian. Ya, di Bumi Pertiwi inilah serbaneka manusia hidup rukun berdampingan, sejak lama sekali. Tak perlu konsep ahlul dzimmi sebagaimana yang diterapkan Dinasti Umayyah II di Spanyol.

Sebagai penerus ajaran Budhi Dharma, Kapitayan, Brahma (merujuk pada Nabi Ibrahim as yang juga disebut Abraham), menjadi mudah bagi kita menerima dan menjalankan Islam secara utuh dengan pendekatan akhlak sempurna. Laku luhur yang lindap di negeri para nabi itu, sudah semerbak mewangi di Sundalandia. Nama kuno bangsa kita sebelum kelak menjadi Indonesia—yang dari segi arti, mengandung konotasi yang kurang tepat.

Demi melacak jejak sumber penerimaan Islam sejak awal kehadirannya di dunia, kita bisa merujuk pada hasil telisik Stephen Oppenheimer, Arysio Santos, dan terkini, sekelompok peneliti Jepang yang mendaku bahwa seluruh umat manusia berasal dari Sundalandia.

Riset yang cukup mumpuni juga dikerjakan oleh Denys Lombard dalam tiga jilid Nusa Jawa Silang Budaya. Ia berhasil menguraikan dengan baik bagaimana bangsa agung Nusantara menyalin ulang begitu banyak khazanah kemanusiaan—yang sesungguhnya bermula dari sini, dan kembali pulang ke pangkuan Ibu Prativi.

Beberapa penelitian terbaru yang di antaranya berdasarkan tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid), termasuk yang dari Jepang, menyatakan bahwa anak-cucu manusia modern saat ini berasal dari Sundaland (dalam tulisan Jepang: スンダランド = ditranskripsikan menjadi Sundarando). Bangsa pertama yang membangun peradaban maju, dengan kondisi alam terkaya di dunia.

Kita semua berawal mula dari bangsa Sunda: Besar dan Kecil. Berjiwa Jawa (bahagia). Berkonsep kenegaraan Nusantara, dengan motto sosial-kerakyatan Silihwangi (saling mengharumkan) melalui proses Silih asah, silih asih, silih asuh (saling menularkan pengetahuan, berbagi kasih, dan saling mengasuh). Dialihrupakan oleh Sukarno menjadi Pancasila.

Barangkali sidang pembaca sekalian sudah cukup akrab dengan begitu banyak ayat, hadis, dan atsar (tinggalan jejak) dari para sahabat Nabi Saw, terkait hidup dalam balutan cinta, kasih, dan sayang. Kami tak perlu lagi menyertakannya dalam tulisan sederhana ini. Silakan gali sendiri seturut kebutuhan masing-masing. Bila Anda ingin dicintai kehidupan, maka cintailah diri sendiri dan orang lain.

Islam sudah cukup selaras dengan hidup manusia. Soalnya, manusia lah yang tak pernah mau menyocokkan dirinya dengan ajaran kebaikan dari Tuhan. Kegagalan mengenali hidup sendiri, berdampak besar pada kegagapan menjalani laku lampah secara universal. Kegalatan mengenal diri, berujung pada kesesatan yang nyata dalam rimba raya jagat pramudhita.

Mulih marang mulå mulanirå… (atk)

Sumber: Alif.ID

Islam Indonesia Islam Nusantara

Komentar
All Rights Reserved.
www.haditv.com | Powerd by : Dijlah